Sorry because my feeling

​

Ingin bercerita suatu hal yang sangat sulit dituangkan baik dalam kata atau tulisan. Makanya dari pada mumet mending mencoba menuangkannya di dalam tulisan terlebih dahulu. Walaupun content-nya tidak jelas.

Mau mengulas kejadian asmara di tahun 2016, banyak sekali kejadian yang tidak terduga dalam diri aku. Layaknya sedang dalam pengaruh sabu atau narkotika lainnya sehingga butuh direhabilitasi. Sepertinya aku harus mulai menjalankan rehabilitasi untuk menghilangkan kecanduan asmara dengan dia. Sepertinya bukan menghiangkan melainkan mengurangkan. Ahh bukan sepertinya tidak perlu di kurangkan justru ditambah kembali perasaan asmara terhadap dia dan semakin menjadi gila akan cintanya. #apasih

Aku selalu bersamanya. Karena kediaman kami berdekatan sehingga kemanapun kami selalu bersama. Kecuali untuk pergi malam kami tidak terlalu sering karena aku masih memiliki undang-undang untuk pergi malam hari. Itu yang kami lakukan. Sehingga semakin lama aku merasa memiliki teman dilingkungan rumahku. Karena terakhir kali aku memiliki teman disekitar rumah saat kelas 6 SD dan temanku itu pindah ke Yogyakarta sampai saat ini. Bisa merasakan bagaimana sepinya jika dirumah ??

Aku termasuk orang yang memiliki sedikit teman. Dan jarang sekali keluar rumah jika tanpa ada seseorang yang menjemputku dirumah. Kenapa ?? orang tuaku sedikit over terhadap aku. Sehingga untuk pergi memiliki peraturan. Rekreasi dengan keluarga ?? jarang, bisa dihitung satu tahun sekali pasca lebaran namun bisa jadi tidak pernah rekreasi. #menyedihkan

Jika teman bercerita dengan ibu, bapak, adik atau kaka. Berbeda dengan aku. Aku sangat jarang menceritakan kehidupan aku dengan orang tua adik dan kaka. Kenapa ?? karena aku tidak ingin mereka khawatir terhadap masalah yang aku hadapi serta aku termasuk orang yang sulit menceritakan masalah kepada orang lain bahkan ke keluargaku sendiri. Maka dari itu aku termasuk orang yang memilikki tingkat stress yang tinggi. Bahkan pernah sampai masuk RS hanya karena memikirkan masalah yang akan dihadapi.

Namun, setelah bertemu dengan dia. Seolah olah aku memiliki teman, keluarga sekaligus pacar. Aku mulai belajar menceritakan masalah yang sedang dihadapi, teman yang memberikan aku hiburan di rumah dan seseorang yang mampu membawa aku keluar rumah. Aku senang, bersyukur bertemu dengannya. Sampai aku memiliki rasa egois kepadanya.

Aku tidak ingin ditinggal dengannya kemanapun, sampai sampai aku membuat ruang yang sempit untuknya. Aku merasa bersalah kepadanya karena aku kesal ketika ia pergi dariku. Aku kesal ketika dia tidak ada waktu untukku, aku kesal ketika dia mengabaikan aku. Itu yang aku rasakan sehingga mengubahku menjadi seorang yang temperamen.

Maafkan aku,, aku tidak dapat mengendalikan diri. 

Maafkan aku jika membuat ruang hidupmu menjadi sempit.

Maafkan aku jika aku sering membuatmu kesal

Maafkan aku jika membuatmu lelah

Maafkan aku jika aku membuatmu berfikir keras untuk mengartikan tingkah aku

Maafkan aku jika aku membuatmu jauh dari keluargamu

Maafkan aku jika aku membuatmu tidak fokus dalam kuliah

Maafkan aku jika aku selalu mendesakmu untuk melakukan sesuatu yang aku inginkan

Maafkan aku jika aku membuat kepentingan dirimu terabaikan.

Maafkan aku karena aku terlalu mencintaimu begitu dalam.

Maafkan aku aku tidak bisa mengendalikan perasaan ini.

Maafkan aku….

Iklan
Pos Sebelumnya
Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: