Back to My Family


​Tulisan ini hanyalah sebuah emosi sesaat….

Sebelumnya aku menulis beberapa emosi yang aku keluarkan setiap harinya… saat ini kalian sendirilah yang dapat menentukan perasaan dan emosi aku saat ini.

Bukan masalah asmara yang saat ini dibahas… melainkan masalah lingkungan ah… bukan ! keluarga besar bukan keluarga inti..

Jika kalian memiliki kampung kalian akan senang untuk pulang ke kampung kalian dengan berbagai cara atau bagi yang tidak memiliki kampung akan senang dengan kampungnya yang memiliki keluarga besar yang memiliki rasa kasih sayang yang begitu besar. Sedangkan aku ?? sebaliknya…

Aku tidak memiliki kampung, kota Bekasi lah kampung halaman aku, tempat kelahiran aku walau terkadang pernah disebut dengan planet. Ya ! aku termasuk alien aseli Bekasi.

Bukan aku tidak menyukai kampung halaman aku, hanya saja ada satu hal yang membuat aku tidak betah dengan kampung ini. Hanya keluarga sebutlah Si Q, keluarga si Q ini membuat kehidupan keluarga aku menjadi sakit hati dengan berbagai macam kata yang selalu mereka lontarkan terhadap keluargaku termasuk aku. Mulai aku terlahir di dunia ini, ah bukan sebelum aku lahir di dunia ini mereka sudah melontarkan kata yang selalu membuat sakit hati. Masalah hanya sepele yaitu MONEY !! and my family dont have MUCH MONEY !!

Tahun 1996, aku terlahir dengan keadaan keluarga yang alhamdulillah masih dikatakan tercukupi. Masih memiliki kesehatan, dapat memberi makan kepada keluarga menyekolahkan kaka aku, dan membelikan isi rumah walau waktu dulu ayahku hanya bekerja sebagai buruh tani yang mengikuti jejak ayahnya. Namun, dimata keluarga Si Q keluargaku hanya lah keluarga yang tidak mampu. Sehingga ketika kami ingin meminjam barang kepadanya harus tebal telinga terlebih dahulu walaupun tidak diberikan pinjaman dengannya. Padahal sebuah keluarga berguna untuk melengkapi serta menguatkan. Justru sebaliknya mereka hanya membuat kami terkadang menyerah. Namun, seakan-akan tidak ingin terus menerus diinjak oleh mereka bapak dan ibu menguatkan diri untuk berusaha dengan keras agar menaikan derat. 

Sampai mampu membeli elektronik, kendaraan serta mobil pribadi dengan hasil usaha seorang ayah dan ibu dengan mengandalkan tanah milik orang lain. namun, semuanya itu tidak membuat mereka menyerah dan memperbaiki diri sendiri melainkan semakin geram kepada kami.

Mereka seolah-olah tidak ingin melihat kesuksesan kami. Mereka mulai memberikan sebuah batasan di sekitar rumahku dengan rumahnya. Dahulunya rumahku, rumahnya Q dan rumah alm. Kakek dan nenek berada di satu wilayah. Semenjak kakek dan nenekku meninggal mereka merenovasi rumahnya menjadi sebuah rumah yang cukup besar dan luas. Rumah kakek dan nenek pun tidak luput dari incarannya sehingga ia meruntuhkan rumah tersebut dan dijadikan bisnis sebuah kontrakan untuknya. Kami berusaha menerima keadilan dalam pembagian warisan. Ibuku sebagai adik kandungnya hanya pasrah dengan pembagian warisan yang termasuk tidak adil. 

Walaupun kelakuannya seperti itu, namanya seorang adik bungsu memiliki perasaan untuk menjadikan keluarganya bersatu dan akur. Berusaha menerima dan selalu membantu. Sampai saatnya tiba-tiba dari sebuah tembok pembatas yang hanya 1 meter di depan rumahku diubahnya menjadi tembok 4 meter di depan rumahku.

Tanpa ada pemberitahuan atau perbincangan apapun terhadap kami sekeluarga. Kami hanya bisa mengusap dada, berusaha menerima walau kenyataannya pahit. Masalah ? aku fikir tidak ada. Kami tidak tahu penyebabnya seperti apa. Sampai-sampai aku bertanya dengan ibu, kenapa seperti ini ?? ibu hanya menjawab tidak tahu serta mulai bercerita keluh kesahnya dan kemungkinan mereka melakukan seperti ini.

Sebenarnya jika kami bukan keluarga, kami tidak akan seperti ini. Kami akan biasa saja karena mereka memiliki hak terhadap wilayah termpat tinggalnya. Yang kami butuhkan saat ini hanya penjelasan mengapa mereka bertindak seperti ini kepada keluarganya sendiri ??

Bukankah dalam agama islam memutuskan tali persaudaraan adalah termasuk orang yang murtad ?? aku tidak ingin menjudge seperti itu. Aku hanya butuh penjelasan… kenapa ??

Kenapa tidak dari dahulu? Memiliki pintu gerbang masing-masing. Sehingga saat aku pulang sekolah tidak selalu menangis karena dikuncikan pintu gerbang dengan sepupu sendiri.

Harta, Tahta dan Wanita

Telah membutakan semuanya. Harta tidak akan selamanya berpihak dengan kami sebagai manusia yang tidak pandai bersyukur terhadap penghasilan kita saat ini. Apa lagi hanya sebuah warisan. Jika seorang tamak tidak akan bisa mempertahankan warisan tersebut. Jangan terlalu sombong hanya karena memiliki banyak uang. Uang tidak akan dibawa ke liang lahat.

Tahta, kedudukan kita dimata Allah hanya manusia yang lemah tidak memiliki apa-apa didunia ini. Manusia hanya bisa meminta kepadaNya karena yang memiliki isi di dunia dan alam semesta ini hanya Allah. Kedudukan yang kita tempati tidak akan abadi. Bahkan raja yang arif dan bijaksana saja akan melepas kedudukannya apabila waktu kejayaannya habis.

Wanita, carilah wanita yang dapat dijadikan penerang, petunjuk untuk kehidupan dunia dan diakhirat. Wanita yang mampu menjadikan pasangannya lebih baik dari sebelumnya.

Seburuk-buruknya anggota keluargamu mereka tetap menjadi keluarga kamu. Karena DNA tidak dapat dipalsukan. Keluarga adalah orang yang pertama tahu diri kamu yang sebenarnya. Keluarga adalah orang yang pertama kali tahu keadaan kita, dan keluarga adalah orang yang pertama kali membantu kita dalam masalah. Maka dari itu,,,, sayangilah keluarga kalian jangan pernah memutuskan tali silaturrahmi dengannya.

Iklan
Pos Sebelumnya
Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: